Ini Alasannya Mengapa Banyak Remaja Berperilaku ‘Labil’

Reporter : | 19 Aug, 2014 - 16:59 WITA

remaja, labil, antisosial,

(foto: Mail Online)

MANADO24 – Para ilmuwan sekarang telah menemukan mengapa beberapa remaja berperilaku labil dan cenderung mengambil risiko berbahaya serta tampak antisosial.

Mereka mengatakan penelitian yang mereka lakukan dapat menjelaskan mengapa cedera yang tidak disengaja adalah penyebab utama kematian bagi remaja.

Mereka juga mengatakan itu bisa menjelaskan perilaku antisosial dan mengatakan itu mirip dengan kecanduan.

Penelitian baru dari Center for BrainHealth di University of Texas di Dallas menemukan bahwa hubungan antara daerah otak tertentu yang membut remaja lebih rentan terhadap risiko tersebut.

“Otak kita memiliki jaringan regulasi emosional yang ada untuk mengatur emosi dan mempengaruhi pengambilan keputusan, “jelas penulis utama studi tersebut, Sam Dewitt dikutip dari Mail Online, Selasa (19/08/2014).

“Perilaku antisosial atau kebiasaan mencari risiko mungkin berhubungan dengan ketidakseimbangan dalam jaringan ini.” tambahnya.

Studi yang dilakukan oleh Francesca Filbey, Ph.D., Direktur Cognitive Neuroscience Research of Addictive Behaviors di Center for BrainHealth dan rekan-rekannya, menunjukkan bahwa remaja yang mengambil risiko menunjukkan hyperconnectivity antara amigdala, pusat yang bertanggung jawab atas reaktivitas emosional, dan daerah tertentu dari korteks prefrontal yang terkait dengan regulasi emosi dan keterampilan berpikir kritis.

Para peneliti juga menemukan peningkatan aktivitas antara daerah korteks prefrontal dan nucleus accumbens, pusat sensitivitas penghargaan yang sering diteliti dalam penelitian kecanduan.

“Temuan kami sangat penting untuk membantu mengidentifikasi penanda potensial di otak yang ketika diambil dalam konteks perbedaan perilaku, dapat membantu mengidentifikasi remaja yang beresiko untuk berperilaku berbahaya dan patologis di masa depan, ” Dewitt menjelaskan.

Dengan mengidentifikasi faktor-faktor ini sejak awal, tim peneliti berharap untuk membantu para remaja yang berisiko, untuk mengatur emosi mereka dan menghindari perilaku mengambil risiko berbahaya dan penyalahgunaan obat-obat terlarang.

Penelitian yang diterbitkan pada 30 Juni di Penelitian Psychiatry: Neuroimaging, meneliti 36 remaja usia 12-17; mereka dibagi dalam dua kelompok masing-masing berjumlah 16 orang , yang terdiri dari remaja yang berisiko dan tidak berisiko.

Peserta disaring untuk mengambil risiko perilaku, seperti penggunaan narkoba dan alkohol, dan kekerasan fisik dan menjalani scan MRI (fMRI) untuk memeriksa komunikasi antara daerah otak yang berhubungan dengan jaringan regulasi emosional.

Menariknya, kelompok berisiko mendapatkan penilaian secara signifikan lebih rendah dibandingkan dengan kelompok tidak berisiko.

“Kebanyakan scan fMRI harus dilakukan bersamaan dengan aktivitas visual tertentu. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, melakukan scan fMRI pada otak yang dalam keadaan ‘mengambang’ sama nilainya, “kata Sina Aslan, di The University of Texas di Dallas.

“Dalam hal ini, daerah otak yang berhubungan dengan pusat emosi dan penghargaan menunjukkan peningkatan koneksi bahkan ketika mereka tidak secara eksplisit terlibat.” ungkap Aslan.

Baca Juga :

Leave a comment

Berita Pilihan

Pengembangan KEK Bitung Masuk Daftar Kerjasama Investasi China di Indonesia

Gubernur Sulut S.H. Sarundajang, dalam pertemuan antara Pemerintah Indonesa dan China. SULUT,... 

HUT ke-12 Kota Tomohon, DPRD Tomohon Gelar Rapat Paripurna

Rapat Paripurna Istimewa HUT ke-12 Kota Tomohon TOMOHON, (manado24.com) – Memperingati... 
Minahasa Advertisement

Join us on