Tidak Hanya Buat Gendut, Junk Food Juga Buat Anda Bodoh

Reporter : | 26 Sep, 2014 - 12:54 WITA

Junk Food, kesehatan, makanan cepat saji,

(foto: morguefile)

MANADO24 – Bukan rahasia bahwa hamburger dan kentang goreng dapat membuat tubuh Anda lebih ‘besar’, tetapi penelitian baru juga menemukan itu dapat membuat otak Anda ‘bekerja lambat’.

Peneliti menemukan bahwa asupan tinggi junk food pada usia 14 tahun, membuat kinerja kognitif mereka menurun saat berusia 17 tahun.

Studi ini menemukan peserta dengan asupan tinggi junk food seperti kentang goreng, daging merah dan daging olahan serta minuman ringan, memiliki asosiasi negatif yang mempengaruhi waktu reaksi, kemampuan mental, perhatian visual, pembelajaran dan memori.

Sementara peserta yang mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran berdaun hijau, memiliki kinerja kognitif positif.

Peneliti Dr Anett Nyaradi mengatakan kepada Science Network bahwa hal itu bisa terjadi karena peningkatan konten mikronutrien dari sayuran berdaun hijau, yang telah dikaitkan dengan peningkatan perkembangan kognitif.

Dr Nyaradi mengatakan beberapa faktor mungkin berperan dalam junk food yang menurunkan keterampilan kognitif, termasuk tingkat asam lemak omega 6 dalam makanan yang digoreng dan daging merah.

Jalur metabolisme fungsi terbaik adalah seimbang, rasio 1:1 omega 3 dan asam lemak omega 6, tetapi junk food menggeser ini ke rasio 01:20 atau rasio 01:25 , menurut Science Network .

Dr Nyardi mengatakan kepada Science Network bahwa asupan tinggi lemak jenuh dan karbohidrat sederhana telah dikaitkan dengan penurunan fungsi hipokampus, yang merupakan struktur otak pusat yang terlibat dalam pembelajaran dan memori yang volumenya meningkat selama masa remaja.

“Masa remaja merupakan periode waktu kritis untuk perkembangan otak. Ada kemungkinan bahwa pola makan yang buruk merupakan faktor risiko yang signifikan selama periode ini … memang, temuan kami mendukung proposisi ini, “katanya.

University of Western Australia dan Telethon Institute mengamati 602 peserta anak-anak. Setiap peserta diminta untuk mengisi kuesioner frekuensi makanan pada usia 14 tahun untuk mengidentifikasi pola makanan sehat dan buruk.

Ketika mereka berusia 17 tahun, kinerja kognitif mereka dinilai menggunakan tes komputerisasi yang meliputi enam tes.

Baca Juga :

Leave a comment

Berita Pilihan

Pengembangan KEK Bitung Masuk Daftar Kerjasama Investasi China di Indonesia

Gubernur Sulut S.H. Sarundajang, dalam pertemuan antara Pemerintah Indonesa dan China. SULUT,... 

HUT ke-12 Kota Tomohon, DPRD Tomohon Gelar Rapat Paripurna

Rapat Paripurna Istimewa HUT ke-12 Kota Tomohon TOMOHON, (manado24.com) – Memperingati... 
Minahasa Advertisement

Join us on